"Mengapa Bipang Ambawang menjadi kontroversi apakah salah Pak Presiden ikut mempromosikan"?
"Bukankah ini bentuk toleransi & Keberagaman"?
SAAT ini pemerintah melarang para warga untuk melakukan perjalanan mudik untuk menghindari Covid-19 demi keselamatan bersama, namun silaturahmi & berbagi hadiah dapat dijalankan dengan cara saling memberikan oleh-oleh khas kuliner daerah melalui pengiriman ekspedisi.
Hal ini akan kita bahas melihat ramainya Pidato Presiden yang menjadi perbincangan
dalam Pidatonya menuturkan:
"Bapak/Ibu dan Saudara-saudara sekalian, sebentar lagi Lebaran, namun karena masih dalam suasana pandemi, pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama," kata Jokowi dalam video tersebut.
Lanjut Video Pak Jokowi memberikan alternatif lain untuk bersilaturahmi dengan saling memberi oleh-oleh khas daerah yang dapat dibeli secara online.
"Untuk Bapak/Ibu dan Saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasanya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online. Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, empek-empek Palembang, Bipang Ambawang dari Kalimantan, dan lain-lainnya, tinggal pesan, dan makanan kesukaan akan diantar sampai ke rumah," ujar Pak Jokowi.
Kata mudik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya pulang kampung halaman: seminggu menjelang lebaran. Yang mana secara umum kita ketahui mudik merupakan tradisi sebelum hari Raya bagi umat Islam, yang jatuh 1 Syawal
setelah menunaikan ibadah puasa dibulan Ramadhan.
Sekarang membeli oleh-oleh sewaktu mudik dulu seperti dituturkan Pak Presiden bisa dikirimkan dan dipesankan online, beberapa oleh-oleh yang disebutkan terdapat salah satunya ialah Bipang Ambawang, yang merupakan babi panggang khas Kalimantan Barat.
Lantas hal tersebut membuat para muslim di Indonesia terkejut, karena makanan Bipang Ambawang terbuat dari Babi, dan Babi sendiri merupakan makanan yang dilarang dimakan bagi para muslim.
Timbulah dibenak masyarakat mengapa orang no 1 di Indonesia mempromosikan Bipang Ambawang saat lebaran, makanan yang tidak diperbolehkan bagi non muslim. Banyaklah Praduga-praduga beradu.
Berbagai kalangan memberikan komentar salah satunya
Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi menjelaskan bahwa pidato dari Presiden Jokowi yang menjadi kontroversial itu adalah dalam rangka mempromosikan kuliner lokal.
“Kami mohon maaf sebesarnya jika terjadi kesalahpahaman, karena niat kami hanya ingin agar semua bangga terhadap produksi dalam negeri, termasuk kuliner khas daerah dan menghargai keberagaman bangsa kita,”
Pak Menteri menekankan agar kita menjunjung tinggi toleransi dan menghargai keberagaman.
Kata hubung dan diksi yang mengaitkan konteks lebaran inilah yang perlu direvisi
jika menggambarkan kuliner khas semua daerah, termasuk Bipang Ambawang, sehingga tidak terlihat ambigu dan dapat dicerna secara jelas.
Bipang Ambawang itu ditujukan untuk umat Kristen dan Katolik, namun Luthfi menyatakan bahwa pada 13-14 Mei 2021 itu adalah momen penting bagi umat Islam dan Kristen/Katolik, yakni Idul Fitri pada 13-14 Mei dan Kenaikan Yesus Kristus.
Begitulah penjelasan agar tidak memperkeruh situasi warganet, sehingga kekaburan makna yang tersirat dapat dijabarkan sejelas mungkin.
Sekretaris Fraksi PPP, Achmad Baidowi (Awiek), menilai tim komunikasi lalai. Awiek menyebut blunder ini sudah terjadi kesekian kali.
"Tim di sekitar presiden lalai sehingga menyebabkan polemik yang tidak perlu. Ini kesekian kalinya blunder komunikasi publik".
Penyampaian pesan kepada masyarakat memerlukan kejelasan makna, agar dapat dipahami secara baik dengan menggunakan patokan bahasa kita bersama yakni (KBBI), sehingga definisi-definisi yang kutip dapat dipahami masyarakat, bukan malah membuat istilah sendiri.
Tulisan:
Sumber Referensi :
..
0 Komentar